Hajar Aswad

hajar-aswad
Hajar Aswad merupakan sebuah batu yang diyakini oleh umat islam berasal dari surga, dan yang pertama kali menemukannya adalah Nabi Ismail dan yang meletakkanya adalah Nabi Ibrahim (wikipedia)

Hajar Aswad adalah batu hitam yang berada di sudut tenggara Ka,bah dilingkari besi putih yang direkat dengan timah terletak kira-kira setinggi setengah meter dari permukaan lantai masjid. Dari sudut inilah putaran Thawaf dimulai dan diakhiri, dan kalau keadaan tidak memungkinkan setiap mulai putaran, disunnahkan menciumnya atau mengusapnya dengan tangan kanan kemudian dikecupnya tangan tersebut. Mencium Hajar Aswad diluar waktu Thawaf juga disunahkan dengan niat mengikuti petunjuk Nabi SAW semata.

Dalam suatu riwayat Bukhori-Muslim, diterangkan bahwa Umar Ibn al Khattab sebelum mencium Hajar Asawd mengatakan, “Demi Allah aku tahu bahwa engkau adalah sebuah batu yang tidak dapat berbuat apa-apa, kalau aku tidak melihat Nabi Rasul Allah menciummu, aku tidak akan menciummu”. Jadi mencium Hajar Asawad ini bukanlah suatu kewajiban bagi umat Islam, tapi merupakan anjuran dan sunnah hukumnya, maka kalau tidak memungkinkan karena penuhnya orang berdesakkan, sebaiknya urungkanlah niat untuk mencium atau mengusap batu itu dan gantilah dengan istilam dari kejahuan. Karena menyelamatkan diri sendiri dan jiwa orang lain dari kecelakkan tentu lebih utama.

    == ISTILAM ==

  • Mengucup Hajar Asawad atau menyentuhnya dengan tangan
  • Jika tidak mampu, memadai dengan isyarat atau melambai tangan dengan tangan kanan
  • Lebih elok (baik) dilakukan setiap putaran
  • nb:wikipedia

Menurut salah satu riwayat, batu ini ketika diturunkan dari sorga berwarna putih mengkilap, namu karena kedurhakaan anak cucu Adam, batu ini makin hitam dan makin hitam. Sejarah batu ini sangat panjang sepanjang sejarah Ka,bah.

Diantara peristiwa penting yang mesti dijadikan Ibrah (Suri Tauladan) bagi kaum muslimin adalah yang terjadi pada tahun 16 sebelum Hijrah. Ketika suku Quraisy berselisih dan masing-masing mempertahankan pendapat tentang siapa yang berhak mengangkat dan meletakkan batu ini pada tempatnya setelah pemugaran Ka’bah itu selesai.
Selama lima hari lima malam mereka dalam situasi gawat, akhirnya munculllah usul dari Abu Umayyah bin Mughirah Al Makhzumy yang mengatakan “Alangkah baiknya kalau keputusan ini kita serahkan kepada orang yang pertama masuk mesjid pada hari ini”. Karena Abu Umayyah orang tertua diantara orang quraisy, maka pendapatnya disepakati. Dan ternyata orang yang pertama kali masuk mesjid pada hari itu adalah Muhammad bin Abdullah (35 th) yang pada saat itu sudah bergelar Al Amin (orang yang terpercaya) karena beliau tidak pernah berdusta, tidak pernah ingkar janji dan seluruh penduduk Mekkah mengakuinya. Maka mereka langsung minta kepada beliau untuk mengambil keputusan tentang pertikaian yang memanas itu. Kemudian Muhammad bin Abdullah menuju tempat penyimpanan batu itu, dan lalu membentangkan sorbannya, kemudian meletakkan Hajar Aswad ditengah-tengah sorbannya, lantas menyuruh seorang wakil dari masing-masing kabilah yang sedang bertengkar, kemudian orang itulah yang mengangkat batu itu bersama-sama, lalu Muhammad bin Abdullah lah yang memasang pada sudut Ka’bah dan semua pihak merasa puas, sehingga terhindarlah dari pertiakaian adu senjata.

Kisah lain yang sangat penting adalah yang terjadi pada musim haji tahun 317 H. Pada saat itu dunia Islam dalam keadaan lemah dan bercerai-cerai, sehingga kesempatan ini dimanfaatkan oleh Abu Tahir al Qurmuthi seorang kepala suku Jazira Arab bagian timur untuk melampiaskan nafsu angkara murkanya. Dengan keji bersama dengan anak buahnya sebanyak 700 orang bersenjata perang mendobrak Masjidil Al Haram dan membongkar Ka’bah dan mengambil Hajar Asawd dengan paksa dan kemudian dibawa kenegaranya dikawasan teluk persia. Kemudian menantang umat Islam agar mengambil batu itu, boleh dengan perang atau membayar dengan sejumlah uang yang pada saat itu sangat berat bagi umat Islam. Setelah 22 tahun (339 H) batu itu dikembalikan ke Mekkah oleh Khalifah Abbasiyah Al Muthi Lillah setelah ditebus dengan uang sebanyak 30,000 dinar. Ketika Abdullah bin Akim utusan Khalifah Al Muthi Lillah menerima batu dari pemimpin suku Qurmuth itu langsung dimasukkan kedalam air dan tenggelam, kemudian diangkat dan dibakar ternyata pecah, maka dia menolak batu itu dan dinyatakan palsu. Dengan tenang pemimpin suku Qurmuth itu memberi yang kedua yang dilumuri minyak wangi dan dibungkus dengan kain sutra yang sangat cantik. Abdullah tetap melakukan seperti semula, dan sungguh aneh dan menakjubkan batu itu tidak tenggelam, dan ketika dibakar tidak panas. Maka Abdullah dengan puas mengatakan,” Nah inilah dia batu itu “. Dengan terheran-heran pemimpin Qurmuth bertanya,” darimana anda mendapat ilmu itu ?”. Abdullah menjawab, “Nabi SAW pernah mengatakan, Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah yang ada dibumi, pada hari kiamat nanti mempunyai mulut dan menyaksikan siapa-siapa yang pernah menyalaminya dengan niat baik atau tidak baik dan tidak akan tenggelam didalam air dan tidak panas oleh api”.

Dalam riwayat selanjutnya ditegaskan bahwa kepada pemimpin Qurmuth ini Allah menurunkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan sampai bertahun-tahun lamanya dan akhirnya semua persendiannya saling berlepasan, kemudian dia mati dalam keadan yang sangat mengenaskan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Themes

No advertising here please! LINK Partners
[tutup]